Memetik Bulan Siang Bolong

: Amaku

Hari ini aku berlarian mengitari taman kota di sebuah negeri asing yang baru kupijak minggu ketigaku. Tak pernah benar-benar mengira bahwa akan tiba waktu untuk bisa berlarian menghirup udara negeri selain negeriku sendiri.

Siang tadi aku berjingkat pergi dari rombongan mahasiswa internasional yang orientasinya dimulai hari ini. Agak membosankan karena materi sudah kudapatkan pada orientasi minggu pertama dan kedua. Jadi, tidak begitu krusial lagi, selain bagian jalan-jalan ke Wind Farm.

Aku berjalan kaki mengitari pusat kota sambil membawa kameraku, mencari bagian sudut taman kota. Kuhampiri sederetan kursi kosong di bawah pohon. Angin kencang sekali siang tadi, dan dingin. Tapi aku tak punya pilihan, memang begitulah seharusnya kota ini, Palmerston North, kota berangin.

Kutemukan kursi, banyak yang kosong, karena ini hari minggu. Kota kecil ini seperti “Ghost Town” kata Rodrigo, satu teman dari Guatemala. Orang-orang memilih menghabiskan weekend di rumah daripada bepergian. Aku mengambil kamera, mencoba mengambil beberapa gambar. Hari masih sore, sekitar pukul setengah empat, tetapi cahaya matahari masih seperti jam satu siang waktu Indonesia. Terik, membakar, tetapi anginnya dingin.

Aku melihat langit, dan kudapati sebetengah bulan yang bangun kesiangan menggantung disana. Tampak mungil dari tempatku duduk, namun cantik. Aku ingat kamu, lelakiku. Kalau kamu duduk menyebelahiku tadi, pasti akan ada banyak kata yang muncul hanya dari sebongkah bulan berwarna putih yang kesiangan di langitu biru bening itu. Atau barangkali kita akan sibuk mendubbing dua laki-laki yang tengah bercengkrama di rerumputan yang nampak di kejauhan itu. Atau kita akan sibuk menerka-nerka apa yang ada di pikiran laki-laki berkulit hitam yang telah pindah duduk berkali-kali mencoba semua tempat duduk kosong di taman itu tadi.

Kemarin aku bertanya apa warna kesukaanmu, kau bilang biru. Aku berpikir sekian lama, kalau aku cukup egois juga ternyata. aku belum pernah bertanya apa warna kesukaanmu bukan? Aku selalu saja membuat semuanya menjadi hitam, seolah-olah kau juga menyukainya, padahal…mungkin juga tidak. Ah, tapi bukan itu yang akan kita bahas disini. Sekarang aku tahu kalau warna kesukaanmu biru. ya, biru. selalu mengingatkanku pada warna langit siang yang cerah, sama seperti siang tadi. Karena itulah kuputuskan untuk mengambil gambar bulan kesiangan di tengah taman itu, buatmu…

satu pepatah dari film yang kita tonton bersama di sore hampi satu bulan yang lalu itu di Cipayung, film sederhana berjudul “Other side of Heaven”, dia bilang

“Wherever they’ve sent we’re underneath the same moon…”

Bulan kesiangan itu, hadiah untukmu…

untukmu lelakiku yang selalu mencoba menjadi pahlawan kesiangan untuk siapa saja🙂

Image

IMG_0573 IMG_0569 IMG_0594 IMG_0598

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s