KEPADAMU

 

Aku melarungkan perahu kertas di kali butek

Dan kau bilang aku menulis sajak yang metaforik,

Aku tahu,

Perahu-perahu kertasku takan sampe ke samudera

Mereka akan Lebur, bahkan sebelum tiba di pintu air penuh sampah,

Lalu menjadi lumpur,

Bercampur limbah restoran, hotel, pabrik, rumah tangga,

Dan warungwarung emperan.

Awanawan kehilangan kelembapan

Kotakota merindukan lugunya kesejukan

Dan kehidupan perlahanlahan ditelan kepurapuraan

Tak ada yang bisa kulakukan selain menulis sajak

Walau aku tahu sajaksajaku mungkin tidak akan terbaca

Atau hanya akan menjadi seliweran katakata yang tak memiliki makna

Berlalu pergi, tanpa arti, kemudian mati

Bau dan busuk…

Bila suatu waktu kau bertemu dengan sajaksajakku tanpa sengaja

Ulurkanlah tanganmu dan beri salam saja, jangan tatap matanya

Sebab kau tak perlu melihat genangan sungai butek didalamnya.

(ama)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s