Ketika berada di dalam bis…

Di sebuah halte, sembari menunggu bis yang akan mengantarku pulang kembali ke rumah, aku bertanya pada seorang yang asing. Kosong itu apa?, tanyaku. Ia menoleh ke arahku, rambut panjang yang berwarna keemasan miliknya berkibar sedikit, Maaf?, katanya. Kosong itu apa?, tanyaku lagi. Wajahnya bingung, aku tersenyum.

Bis-ku datang, aku beranjak dan mengucapkan terima kasih pada orang asing yang tak kukenal itu, tanpa ia sempat menjawab. Barangkali ia bertambah bingung sekarang. Bis beranjak. Aku beranjak.

Sepanjang jalan, pandangan melewati kaca jendela bis, barisan pohon-pohon gundul ranggas. Udara dingin telah memakan habis daun-daun yang sedianya indah itu. Ranggas…ya ranggas, sepertiku. Pohon-pohon melewatiku satu per satu, dengan satu tarikan nafas yang panjang setiap kali.

Kau tak lagi sibuk berpuisi, kata batinku tiba-tiba, marah padaku. Jiwamu sedang cedera serius, kenapa diam saja?!. Mata kupejam, menghela napas sekali lagi. Berat kali ini. Menyadari, bahwa perjalanan singkat di dalam bis, selalu saja memunculkan ingatan-ingatan yang menempel lekat di retak-retak tengkorak. Berkerak.

Kulirik jam di tangan, 9.20 pm. Bis rute 12B terakhir yang lewat depan rumah malam ini dikendarai seorang bapak tua dengan wajah yang tak letih. Ia tersenyum, menyapa ramah ketika aku naik tadi, bertanya singkat tentang kabarku hari ini. Basa-basi kujawab aku baik-baik saja. Maaf, aku berbohong, kataku dalam hati.

Kukeluarkan sebuah rosario dengan bulir-bulir batu hitam dari kantong jaketku, kugenggam dan kuletakkan dekat dadaku. Aku merasa bapak tua sedang memandang ke arahku melalui kaca spion di depannya. Barangkali ia heran,bertanya di benaknya.  Mengapa perempuan ini memegang sebuah simbol yang sama sekali lain dengan simbol yang dikenakannya? Kubalas melihatnya melalui kaca spion itu dan melihatnya tersenyum ke arahku, damai. Aku balas tersenyum, air mata meleleh di mata kiriku. Buru-buru kuhapus. Semoga bapak tua tidak sempat melihatnya…

Ah, kenapa seringkali begini beberapa bulan terakhir ini. Bukan ini seharusnya yang terjadi, yang kurasakan. Merasa lebih sendiri daripada sebelum-sebelumnya. Perasaan yang mengerikan. Cengeng. Tak ada yang bisa diajak bicara, bercerita.

Sudahlah, tak ada yang akan menunggumu pulang kali ini, maka tak perlu lagi kau berpikir untuk pulang!, kata batinku lagi, padaku. Aku memejam mata lagi, mengambil napas, kemudian terisak pelan. Masih di dalam bis. Untunglah bis terakhir selalu kosong, dan lampu di dalamnya selalu dimatikan, tanda setelahnya tidak akan ada lagi bis yang beroperasi. Berpikirlah untuk membawa setapakmu ke tempat lain, mulai lagi hidupmu dari awal!, batinku mulai berteriak-teriak tak karuan. Kututup telinga. Lihat..lihat…kau sudah baca bukan? bukankah tiap hari kau buka berita di internet, apa yang bisa kau harapkan dari negaramu yang bobrok itu? yang sudah habis dimakan ngengat dari dalam, digerogoti orang-orangmu sendiri! Apa kurang jelas??, batin yang ngelantur. Diam!, kataku. Rosario di tanganku semakin erat kugenggam, aku semakin terisak, tanpa suara, hanya napas yang tertahan dan dada yang naik turun tak beraturan. Tuhan, aku dimana?

Kutekan tombol merah di hadapanku, sejurus kemudian bis berhenti di sebuah halte. Kulap airmata seadanya dan beranjak menuju pintu keluar bis. Kuucapkan terima kasih pada bapak tua pengendara ketika kulewati ia menuju pintu. Ia melihat ke arahku, tersenyum sedikit dan ucapannya mengagetkanku, “I will bring you on my prayer tonight, young lady..”. Kupandangi bapak tua itu sekali lagi sebelum aku benar-benar turun dari bis, “Thank you…”, balasku lirih. Dadaku berdesir, hangat, namun semakin sesak.

Kulanjutkan perjalanan menuju rumah, berjalan kaki, menyusuri setapak. Kembali terisak, karena aku tahu, di rumah yang kutuju ini pun, hanya akan kutemui rumah yang masih gelap, dan tak ada yang menungguku pulang….

~Ina~

July, 2013

bus and windows

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s